[Artikel] LINTAS BUDAYA DI DATARAN TINGGI TANOH GAYO

Oleh:

Sri Widya Rahma

(Mahasiswa Semester IV Program Studi Tadris Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri Takengon)

Lintas budaya terjadi ketika manusia dengan budayanya berhubungan dengan manusia lain yang berasal dari budaya berbeda, berinteraksi dan bahkan saling mempengaruhi. Lintas budaya adalah istilah yang sering di gunakan untuk menjabarkan situasi ketika sebuah budaya berinteraksi dengan budaya lain dan keduanya saling memberikan pengaruh dan dampak baik positif maupun negative. Lintas budaya bukan saja terjadi antara Negara satu dengan Negara lain, melainkan bisa saja terjadi antara pulau yang satu dengan pulau yang lain atau suku yang satu dengan suku yang lain.

Seperti yang terjadi di dataran tinggi Tanoh Gayo. Suku Gayo adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah. Berdasarkan sensus 2010 jumlah suku Gayo yang mendiami provinsi Aceh mencapai 336.856 jiwa. Wilayah tradisional suku Gayo meliputi kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Selain itu, suku Gayo juga mendiami sebagian wilayah di Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur. Suku Gayo beragama islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya dan mereka menggunakan Bahasa Gayo dalam percakapan sehari-hari mereka.

Namun, masyarakat yang mendiami Tanoh Gayo bukan hanya saja suku gayo, melainkan banyak suku yang tinggal dan mendiami Tanoh Gayo. Sehingga banyak budaya yang masuk, dan berkembang di Tanoh Gayo. Minsalnya saja suku Jawa, mereka membawa kebudayaan mereka sendiri ketika mereka datang. Namun, perbedaan kebudayaan tidak membuat masyarakat di Tanoh Gayo berpencar.

Hal tersebut membuat masyarakat di Tanoh Gayo menjadi lebih memiliki rasa toleransi yang tinggi antar suku dan kebudayaan.

Lintas budaya juga menyebabkan adanya ragam Bahasa di dataran Tinggi Gayo, dimana di daerah yang memiliki julukan negeri di atas awan yang didiamin oleh berbagi macam suku budaya ini, bukan hanya dari segi kebudayaan saja yang berbeda, melaikan bahasa yang di gunakan setiap suku pasti berbeda pula. Minsalnya saja antara suku Gayo dan Aceh tidak mungkin tidak ada interaksi antar suku, sudah dipastikan mereka saling melakukan dan memberikan interaksi , serta saling menyampaikan informasi satu sama lain. Pada awalnya mungkin saja mereka sulit untuk melakukan interaksi, karena perbedaan bahasa.

Namun lambat laun, perbedaan bahasa, budaya, dan suku bukanlah hal sulit bagi mereka, karena pada saat sekarang ini suku Aceh, Jawa dan suku lainnya sudah mahir berbahasa Gayo, karena faktor lingkungan yang rata-rata adalah suku gayo. Setiap suku tentu saja berusaha untuk menggunakan bahasa yang baik dan di mengerti oleh suku lain untuk menciptakan suasana interaksi yang baik antar satu sama lain.

Perbedaan suku, budaya, dan bahasa, pastinya memberikan dampak yang baik bisa berupa dampak positif maupun negatif antara satu sama lain. Adanya perbedaan budaya di berbagai daerah khususnya di Tanoh Gayo, itu karena budaya bersifat dinamis dan selalu berevolusi sehingga perlu beragam pendekatan untuk memahami kebudayaan, antara lain, dengan cara pemahaman lintas budaya. Lintas budaya juga mempengaruhi suku Gayo itu senidri, yaitu bahasa di luar bahasa Gayo turut mempengaruhi variasi dialek orang Gayo. Minsalnya saja, bahasa Gayo yang ada di Lokop, sedikit berbeda dengan bahasa Gayo yang ada di Gayo Kalul, GayoLut, Linge dan GayoLues. Hal tersebut disebabkan karena pengaruh bahasa Aceh yang lebih dominan di Aceh Timur. Begitu juga halnya dengan Gayo Kalul, di Aceh Tamiang, sedikit banyak terdapat pengaruh Melayu karena lebih dekat ke Sumatra Utara. Kemudian, Gayo Lues lebih dipengaruhi oleh bahasa Alas dan bahasa Karo karena interaksi yang lebih banyak dengan kedua suku tersebut lebih-lebih komunitas Gayo yang ada di kabupaten Aceh Tenggara.

Dialek pada suku Gayo, menurut M.J. Melalatoa, dialek Gayo Lut terdiri dari subdialek Gayo Lut dan Deret, sedangkan Bukit dan Cik merupakan sub-sub dialek. Demikian pula dengan dialek Gayo Lues terdiri dari sub dialek Gayo Lues dan Serbejadi. Sub dialek Serbejadi sendiri meliputi sub-sub dialek Serbejadi dan Lukup (1981:53).

Sementara Baihaqi Ak., dkk, menyebut jumlah dialek bahasa Gayo sesuai dengan persebaran suku Gayo tadi (GayoLut, Deret, GayoLues, Lokop/Serbejadi dan Kalul).

Namun demikian, dialek GayoLues, GayoLut, Gayo Lukup/Serbejadi dan Gayo Deret dapat dikatakan sama atau ama tberdekatan. Di Gayo Lut sendiri terdapat dua dialek yang disana dinamakan dialek Bukit dan Cik. Dalam bahasa Gayo, (memanggil seseorang) dengan panggilan yang berbeda, untuk menunjukan tatakrama, sopan santun dan rasa hormat. Pemakaian ko dan kam, yang keduanya berarti kamu (anda). Panggilan ko biasa digunakan dari orang tuadan/atau lebih tua kepada yang lebih muda. Kata kam sendiri lebih sopan dibandingkan dengan ko. Bahasa Gayo Lut dinilai lebih sopan dan halus dibandingkan dengan bahasa Gayo lainnya.

Pada intinya lintas budaya bukanlah suatu masalah yang menyebabkan adanya perbedaan, dengan adanya lintas budaya kita sebagai masyarakat harus pandai mengambil sisi baiknya saja, jangan sampai menjadi perpecahan antara suku dan budaya. Lintas budaya juga memberi kita pemahaman betapa pentingnya mengenal budaya orang lain, serta mengetahui kebiasaan dari setiap suku dan budaya untuk menambah pengetahuan serta wawasan kita tentang suku dan budaya-budaya yang ada di Indonesia. Lintas budaya mengajarkan kita bahwa betapa perbedaan itu indah dan juga mampu memberikan gambaran tentang bagaimana cara kita untuk menyikapi suatu perbedaan khususnya dalam hal budaya.

Terimakasih bagi yang sudah membaca semoga bermanfaat bagi kita semua.

Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*