Tindak Tutur: Lokusi, Ilokusi dan Perlokusi

Oleh:

Feti Sriyana

(Mahasiswi Semester VI Program Studi Tadris Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri Takengon)

Bahasa adalah sebuah alat yang digunakan untuk berinteraksi sosial atau merupakan sebuah alat untuk berkomunikasi. Di mana dalam berkomunikasi tentunya manusia akan saling menyampaikan informasi yang merupakan suatu pikiran, maksud, perasaan, gagasan, ide, dan bahkan emosi secara langsung. Menurut pengalaman nyata, bahasa itu selalu muncul dalam bentuk tindakan atau tingkah tutur individual. Karena itu tiap telaah struktur bahasa harus dimulai dari pengkajian tindak tutur. Tindak tutur merupakan perwujudan konkret fungsi-fungsi bahasa, yang merupakan pijakan analisis pragmatik.

Pengertian tentang tindak tutur menurut Austin (1962) yang menyebutkan bahwa pada dasarnya pada saat seseorang mengatakan sesuatu, dia juga melakukan sesuatu. Pernyataan tersebut kemudian mendasari lahirnya teori tindak tutur. Yule (1996) mendefinisikan tindak tutur sebagai tindakan yang dilakukan melalui ujaran. Sedangkan Cohen (dalam Hornberger dan McKay (1996) mendefinisikan tindak tutur sebagai sebuah kesatuan fungsional dalam komunikasi.

Berbagai jenis tindak tutur, seperti pernyataan, perintah, dan pertanyaan, memungkinkan seseorang untuk mulai berinteraksi tidak hanya dengan dirinya sendiri, tetapi juga dengan orang lain di sekitarnya. Akibatnya, situasi ini dapat memengaruhi perilaku (sikap dan tindakan) orang tersebut terhadap orang lain yang berkomunikasi dengannya.

Tindak tutur: lokusi, ilokusi, perlokusi Pada tahun 1955, John Austin menyarankan bahwa ucapan juga dapat digunakan untuk melakukan suatu tindakan. Austin menunjukkan bahwa ketika anda mengucapkan kalimat anda tidak hanya mengatakan sesuatu, anda juga melakukan sesuatu. Untuk mengilustrasikan pendapatnya, Austin mengembangkan trikotomi untuk membedakan antara tindakan bicara yang berbeda. Trikotomi ini terdiri dari tindakan lokusi, tindakan ilokusi, dan tindakan perlokusi. Tindakan-tindakan ini dapat didefinisikan sebagai berikut:

A. Tindak tutur lokusi
Tindak tutur lokusi melibatkan produksi suara dan produksi kata-kata. Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu sebagaimana adanya atau The Act of Saying Something tindakan untuk mengatakan sesuatu.

Fokus lokusi adalah makna tuturan yang diucapkan, bukan mempermasalahkan maksud atau fungsi tuturan itu. Tindak tutur lokusi merupakan tindakan yang paling mudah diidentifikasi karena dalam pengidentifikasiannya tidak memperhitungkan konteks tuturan.

Contoh: “It is hot here”, makna lokusinya berhubungan dengan suhu udara di tempat itu. Contoh lain ‘Saya lapar’, seseorang mengartikan ‘Saya’ sebagai orang pertama tunggal (si penutur), dan ‘lapar’ mengacu pada ‘perut kosong dan perlu diisi’, tanpa bermaksud untuk meminta makanan. Dengan kata lain, tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami

Dalam tindak lokusi, Austin membagi tiga subjenis, yaitu:
1. Tindak fonik (phonic), yaitu dikeluarkannya bunyi atau phones
2. Tindak fatik (phatic) yaitu adanya phemes, bunyi-bunyi tersebut memiliki kosakata dan mengikuti aturan tata bahasa tertentu (phemes).
3. Tindak retik (rhetic), yaitu adanya makna dan referensi (rhemes)

B. Tindak tutur Ilokusi
Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit. Menurut pendapat Austin ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. Ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan. Bagi Austin, tujuan penutur dalam bertutur bukan hanya untuk memproduksi kalimat-kalimat yang memiliki pengertian dan acuan tertentu. Bahkan tujuannya adalah untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang memberikan konstribusi jenis gerakan interaksional tertentu pada komunikasi. Tindak tutur ilokusi ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin,mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan.

Pada kalimat “It is hot here”, makna ilokusinya mungkin permintaan (request) agar membuka jendela lebar-lebar, atau bila kalimat tersebut diulang-ulang, mungkin mengisyaratkan keluhan (complaint).

Contoh lain: “ Sudah hampir pukul tujuh.” Kalimat di atas bila dituturkan oleh seorang suami kepada istrinya di pagi hari, selain memberi informasi tentang waktu, juga berisi tindakan yaitu mengingatkan si istri bahwa si suami harus segera berangkat ke kantor, jadi minta disediakan sarapan. Oleh karena itu, si istri akan menjawab mungkin seperti kalimat berikut, “Ya Pak! Sebentar lagi sarapan siap.”

Austin membagi tindak ilokusi kedalam lima subjenis:
1. verdiktif (verdictives), tindak tutur yang ditandai oleh adanya keputusan yang bertalian dengan benar-salah.
2. Eksersitif (exercitives), tindak tutur yang merupakan akibat adanya kekuasaan, hak, atau pengaruh.
3. Komisif (commissives), tindak tutur yang ditandai oleh adanya perjanjian atau perbuatan yang menyebabkan si penutur melakukan sesuatu.
4. Behavitif (behavitives), tindak tutur yang mencerminkan kepedulian sosial atau rasa simpati.
5. Ekspositif (expositives), tindak tutur yang digunakan dalam menyederhanakan pengertian atau definisi.

C. Tindak Turur Perlokusi
Tindak tutur perlokusi (Perlocutionary act), melakukan suatu tindakan dengan mengatakan sesuatu. Tindak perlokusi menghasilkan efek atau hasil. yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar, sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat itu. Tanggapan tersebut tidak hanya berbentuk kata-kata, tetapi juga berbentuk tindakan atau perbuatan. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya.

Contoh: ‘Saya lapar’, yang dituturkan oleh si penutur menimbulkan efek kepada pendengar, yaitu dengan reaksi memberikan atau menawarkan makanan kepada penutur. Pada kalimat “It is hot here”, berdasarkan konteks tertentu (udara panas, berada dalam ruangan yang jendela dan pintu tertutup semua, misalnya), maka hasil yang akan diperoleh adalah jendela akan dibuka lebar-lebar atau tidak dihiraukan sama sekali.

Terimakasih bagi yang sudah membaca semoga bermanfaat bagi kita semua.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*