[Artikel] PERBEDAAN CROSS CULTURE ANTARA SUKU GAYO DAN ACEH

Oleh:

Dhea Suliani

(Mahasiswa Semester IV Program Studi Tadris Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri Takengon)

Lintas Budaya akan terjadi ketika ada individu atau kelompok manusia berhubungan dengan manusia lain yang berasal dari budaya yang berbeda. Lalu, berkomunikasi, berinteraksi, dan saling mempengaruhi antarsesama. Lintas budaya adalah sebuah istilah yang sering digunakan oleh masyarakat untuk mengubah situasi ketika sebuah budaya berinteraksi dengan budaya lain dan keduanya saling memberikan pengaruh yang berdampak positif maupun berdampak negatif. baik itu untuk kebaikan kebudayaan maupun menghancurkan suatu kebudayaan tersebut, atau bisa menjadi tahapan awal dari sebuah proses akulturasi.

Selain itu, lintas budaya ini biasanya menciptakan nilai-nilai yang dapat diterima dan disepakati oleh budaya lain. Tujuannya untuk menjadikan manusia dapat berinteraksi secara baik dan pada akhirnya dapat mempererat tali persaudaraan sesama warga negaranya maupun orang dilingkungan sekitarnya. Dengan begitu, ,mereka dapat memahami dan dapat melengkapi satu dengan yang lainnya didalam perlintas budaya mereka dan menjadikan perdamaian serta keharmonisan kehidupan meskipun memiliki suku bangsa yang berbeda.

Lintas Budaya berhubungan erat dengan otonomi daerah, masyarakat, dan masyarakat yang menggunakan lebih dari satu kebudayaan. Seperti di Indonesia, di Indonesia sendiri terkenal dengan berbagai suku yang berbeda-beda disetiap titik provinsinnya. Bahkan satu provinsi saja memiliki suku yang berbeda-beda lagi didalammya. Itu justru membuat keragaman lintas budaya di Indonesia yang tidak mudah untuk di pahami disetiap suku budayanya sebab memiliki adat yang berbeda-beda pula.

Namun, di Indonesia sendiri memiliki berbagai suku bangsa didalamnya. Disetiap suku memiliki lintas budayanya masing-masing. Ada sebagian budaya lain yang dapat mempengaruhui kebudayaan suku itu dengan mudah bahkan ada juga yang sulit terpengaruh. Biasanya, faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya ialah dari lingkungan ia tinggal. Sebab, lingkungan sekitarnya yang sangat berperan aktif dalam mempengaruhi masuknya dampak-dampak aura positif ataupun negatif kedalamnya.

Didalam setiap suku indonesia memiliki peraturan adatnya sendiri. Seperti pada suku Gayo, suku Gayo ialah salah satu suku bangsa yang mendiami daerah di sekitaran Dataran Tinggi Gayo di Provinsi Aceh, Indonesia. Masyarakat suku Gayo kebanyakan berdomisili di kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues . Dan sebagiannya ada juga yang mendiami di luar dari provinsi Aceh. Namun, itu tidak sebanding banyaknya dari masyarakat asli di tiga kabupaten tersebut.

Suku Gayo memiliki adat yang harus dipatuhi oleh masyarakatnya yang yang telah memiliki darah keturunan sukunya sejak turun temurun. Lintasan budaya lain bisa saja mempengaruhi masyarakat Gayo pada dampak yang positif maupun yang negatif atau bahkan budaya lain tidak bisa untuk merubah apapun dari budaya suku Gayo tersebut sebab mereka yang begitu mempertahankan dan menjaga budaya mereka dengan sebaikl-baik mungkin. Sehingga, budaya lain tidak dapat mempengaruhi budaya itu dan bisa saja berbalik, budaya lain yang malah terpengaruh pada suku budaya Gayo tersebut.

Contohnya didalam berinteraksi begini, sekelompok masyarakat perantauan dari luar Gayo yang merantau ke daerah Dataran Tinggi Gayo, Ia tidak memiliki basic tentang Bahasa Gayo itu sendiri atau bahkan sebelumnya ia tidak pernah mendengar Gahasa Gayo sama sekali. Anggap saja sekelompok masyarakat itu berasal dari Banda Aceh, di Banda Aceh otomatis masyarakatnya bersuku budaya Aceh, dengan begitu lingkungan yang ia pakai untuk berinteraksi adalah dengan menggunakan Bahasa Aceh. Namun, sekelompok masyarakat perantauan ini harus memahami Bahasa Gayo karena mereka harus menyesuaikan lingkungan barunya itu. Namun, masyarakat suku Gayo juga tidak memahami Bahasa Aceh karena tidak memahami apa itu bahasa aceh sedikitpun. Solusi terbaiknya mereka harus berinteraksi menggunakan bahasa Internasional. Yaitu, Bahasa Indonesia. Dengan begitu mereka akan saling memahami meskipun berbeda suku budaya mereka.

Jika mereka lebih lama untuk hidup bersama bisa saja kedua suku itu dapat saling mempengaruhi budaya mereka. Suku Gayo bisa saja mulai memahami bahasa aceh dan suku aceh pula dapat memahami Bahasa Gayo atau bahkan mereka dapat berbicara dengan lancar. Itu adalah contoh lintasan budaya yang dapat mempengaruhi budaya lain. Namun, logat suku gayo tetap tidak bisa dirubah karena logat dan gaya bahasanya sudah melekat sejak lahir pada dirinya. Begitupun sebaliknya, suku aceh akan mempertahankan logat suku budayanya sendiri.

Kemudian, pada masyarakat suku Gayo memiliki nama-nama marga pada turunannya. seperti, pada marga Cibro, Munte, Melala, Linge, Ariga, Mahlige dan Tebe. Berbeda pula pada masyarakat suku aceh. Nama-nama gelar khas suku Aceh yang biasanya diletakkan sebagai nama depan “Cut” dan “Teuku” itu seharusnya hanya di berikan kepada seseorang yang benar-benar memiliki garis keturunan yang erat dengan Kerajaan Aceh dahulu. Gelar Cut dan Teuku ini diberikan berdasarkan sistem monarki yang ada di Aceh sebagai lambang keturunan dari Ulee Balang Kerajaan Aceh. Biasanya juga, gelar “Cut” itu identik diberikan kepada anak perempuan dan “Teuku” itu diberikan kepada nama anak laki-laki.

Di setiap suku budaya pasti memiliki peraturan-peraturan yang yang harus dipatuhi dan tidak boleh untuk dilanggar. Seperti pada masyarakat suku Gayo memiliki peraturan ketikan didalam makan tidak boleh bersendawa didepan umum ataupun didepan orang yang lebih tua dari kita, itu terlihat hal yang tabu dan tidak baik untuk diprlihatkan dari dalam diri. Namun, pada masyarakat aceh hal yang tabu ketika makan ialah buang angin saat makan. Itu adalah hal tabu dilakukan pada masyarakat aceh. Dengan begitu ketika kedua suku budaya itu sedang makan bersama harus saling menghargai peraturannya dan tidak terjadi culture shock anatar kedua suku tersebut.

Dengan begitu, besar harapan kepada seluruh masyarakat yang berbeda suku budaya untuk tetap saling mengharhgai serta dapat bermasyarakat untuk menciptakan kehihidupan yang rukun dan damai meskipun dengan lintasan budaya yang berdeda-beda disekitar lingkungan kita.

Terimakasih bagi yang sudah membaca semoga bermanfaat bagi kita semua.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*