[Artikel] Pentingnya Peran Negara Dalam Mensejahterakan Keluarga

Oleh :

Hafizah

(Mahasiswi Semester V Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAIN Gajah Putih Takengon)

A. Adapun peran perempuan di dalam Islam

Islam memberikan tempat yang mulia bagi wanita kedudukan antara wanita dan pria di dalam Islam sama pentingnya karena keduanya saling melengkapi dalam menjalankan peran masing masing sesuai islam. Dalam Al-Qur’an sendiri tidak ditemui satu buktipun tentang apa yang disampaikan dalam kitab kitab suci lain bahwa wanita diciptakan lebih rendah dari daripada pria. Hal ini dapat dilihat dari TQS al- Taubah : 71 artinya :’’Dan orang orang yangberiman. Lelaki dan perempuan (adalah ) menjadi penolong bagi sebagian yang lain . mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf . mencegah dari yang mungkar , mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya-Nya. Mereka itu akan diberi nikmat oleh Allah sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana .

Wanita di dalam Ialam memiliki peran yang sangat besar baik dalama kehidupan bermasyarakat maupun agama , karena ia adalah pencetak generasi yang baru karena sesungguhnya disetiap rangkaian keberhasilan disana ada peran wanita hebat yang mendominasi .

1. Adapun peran wanita sebagai anak.
Islam tidak mengakui adanya perbedaan cara memperlakukan anak laki laki maupun anak perempuan dengan cara mengistimewakan salahsatunya dan mengabaikan yang lain. Anak perempuan berperan menjaga kemulian keluarganya dengan cara menjaga harga diri dan kehormatan nya, serta menuntut ilmu untuk bekal menjalani kehidupan yang tentunya sesuai hukum syara dengan tujuan mendapatkan keridhaan Allah anak perempuan juga berperan dalam membantu tugas-tugas rumah tangga di dalam keluarganya .

2. Adapun peran wanita sebagai istri.
Wanita tidak hanya memiliki peranan yang penting bagi keluarganya melainkan juga berperan dalam kehidupan suami dan anak anak nya kelak. seorang istri memiliki peranan penting dibalik seorang suami yang sholih terutama saat suaminya memperoleh kesuksesan maupun saat dirinya diberi ujian oleh Allah SWT .

Seorang istri yang shalihah senantiasa memberi dorongan untuk terus maju serta memberi dukungan kepada suami agar senantiasa semangat dalam menapaki ujian dan berusaha menenangkanya agar ia tetap sabar dan bersyukur .

Disamping itu adapun peran istri dalam Islam yakni sebagai ummu warabatul bait (ibu yang mengatur urusan rumah tangga ), jadi dalam syariat islam seorang wanita mengurusi rumah tangga secara sempurna bukan dengan menjadi istri paruh waktu (part time) adalah lebih baik daripada wanita yang bekerja di luar rumah . karena di dalam Islam hukum bagi seorang wanita yang bekerja di luar adalah mubah dan bisa menjadi suatu dosa apabila menjalankan hal tersebut tampa mengindahkan aturan islam yakni dengan kata lain tidak terikat dengan hukum syara , padahal Al-Qur’an telah mengejarkan para wanita untuk senantiasa tetap berada di dalam rumahnya kecuali ada alasan atau keperluan yangdiperbolehkan oleh syariat dan mendapatkan izin keluarga atau suami bagi yang sudah menikah dengan batasan –batasan seperti :

a. Taat akan perintah suami selama hal tersebut tidak bertentangan dengan hukum syara.
b. Tidak pulang sendirian apalagi suka pulang larut malam
c. Kalaupun keluar sendiri senantiasa pandai melihat kondisi yang tidak membahayakan dirinya.
d. Berpakaian rapi dan sopan (yakni menutup aurat ) sesuai dengan QS. An-Nur 32 dan QS. Al-Ahzab :59 ).
e. Tidak bersolek dan memakai wewangian yang berlebihan.
f. Memperhatikan batasan pergaulan dengan lawan jenis dan menjaga prilaku
g. Dan yang paling penting adalah berusaha menjaga kehormatan diri serta keluarganya.

3. Adapun peran wanita sebagai ibu.
Seorang ibu memiliki kedudukan istimewa didalam islam bahkan tiga kali lebih diutamakan daripada seorang ayah rasanya tidakalah berlebihan bila dinyatakan demikian oleh Rasululah SAW , karena ibu adalah guru pertama bagi seorang anak sebelum nantinya ia akan dididik oleh orang lain. Saat Allah meniupkan ruh kepada rahim seorang perempuan maka disanalah dimulai proses pendidikan bagi anak dengan cara membiasakannya dengan kebiasan yang sesuai dengan hukum Islam dari ibu yang baik dan terikat dengan hukum syaralah yang dikemudian hari akan melahirkan generasi emas dan menoreh sejarah peradaban, misalnya seperti Muhammad Al Fatih yang dikemudian hari mampu menaklukan kota konstatinopel . Muhammad Al Fatih dididik dengan islam tidak hanya dari segi ibadah melainkan segala aspeknya dibentuk sesuai dengan hukum syara yakni pemikiran karena pola pikir yang islam akan melahirkan pola sikap serta syaksiah ( berkepribadian ) islam yang tentunya tidak terlepas dari pendidikan Aqidah, Ibadah dan Ahlak .

4. Adapun peran wanita dalam masyarakat
Dalam masyarakat Islam peran wanita sangatlah diperlukan hal ini tidak dapat dipungkiri karena tersebarnya Islam pun karena ada peran andil yang diambil oleh wanita didalamnya.

a. Peran wanita dalam dakwah
Seorang wanita juga memiliki peran mendidik generasi agar dikemudian hari terbentuklah generasi muslim yang memiliki sikap berpendidikan yang sesuai dengan Al-Qur,an dan Assunah sekaligus ia dapat menjadi guru bagi anak anak maupun memberikan pelajaran kepada wanita lain dilingkungannya.
b. Peran wanita dalam peperangan dan jihad
Wanita juga boleh ikut andil dalam peperangan sebagaimana disaat peperangan pada masa Rasulullah pernah terjadi ,adapun peran para wanita dalam medan perang diantaranya memberikan makanan atau minuman kepada para tentara perang, mengobati luka luka yang diderita oleh pasukan muslim . bahkan ada pula muslimah yang terjun kedalam barisan muslim untuk melawan musuh misalnya Shafiyah binti Abdul Mutalib yang pernah membunuh yahudi yang ditugaskan menjadi seorang pengintai dalam peperangan kala itu.

B. Adapun keluarga bahagia menurut pandangan islam

Keluarga muslim adalah keluarga yang bahagia sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT dalam firman-Nya
“ Dan diantara tanda tanda kekuasaan –Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri istri dari jenismu sendiri , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadiakan Nya diantara kamu kasih dan sayang” QS Ar Rum : 21 . konteks ayat diatas artinya pernikahan itu menjadikan seorang suami merasa tentram dan damai disisi istrinya begitu pula sebaliknya jadi ketentuan dasar dalam sebuah perkawinan adalah kedamaian dan dasar dari kehidupan suami dan istri adalah ketentraman .
Ketentraman dan kedamaian ini merupakan awal dari suasana bahagia .

Rasulullah SAW menegaskan secara rinci tentang gambaran kebahagiaan seorang muslim dalam sabdanya “ ada empat hak yang termasuk dalam kebahagiaan seseorang , istri yang shaliha, tempat tinggal yang lapang tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman . Ada empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang yakni tetangga yang jelek , istri yang tidak shalihah , kendaraan yang jelek dan tempat tinggal yang sempit (HR. Ibnu Hiban )”.

Agama Islam adalah agama yang sempurna dan agama islam tidak hanya memberikan gambaran kebahagiaan tetapi juga menjelaskan gambaran berbagai upaya untuk meraihnya lewat penetapan hak dan kewajiban yang harus dilaksanakn oleh suami maupun istri.

Adapun peran keluarga dalam Islam .
Keluarga adalah orang orang yang teriakat akan suatu hubungan yang erat yang dimana masing masing dari mereka melakoni perannya guna mengarungi sebuah usaha dalam membangun keluarga berdasarkan aturan Islam sehingga apapun yang dilakasanakan saling mendorong dalam kebaikan dan keharmonisan dalam hubungan yang erat dan saling berkesinambungan . adapun peran dan kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang suami maupun istri diantaranya
Kewajiban Suami

1. Mempergauli istri dengan yang makruf
Allah SWT berfirman “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibanya menurut cara yang makruf QS Al-Baqarah : 228” Rasulullah SAW bersabda “ orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik perlakuanya terhadap keluargaku ( HR al Hakim dan Ibnu Hiban ”
2. Menjadi pemimpindalam rumah tangga.
Kesakinahan rumah tangga tidak menafikan adanya riak riak masala bahkan mungkin gelombang kesulitan yang terkadang menghadang .
Agar rumah tangga tersebut sukses melewati segala rintangan dan ujian .

Maka disinilah dibutuhkan kepemimpinan seorang nahkoda sebagaimana firman Allah SWT “ kaum laki laki adalah pemimpin bagi kaum wanita QS An Nisaa:34”
Artinya suami bertanggung jawab atas pengaturan dan pemeliharaan urusan rumah tangga .

Islam memberi ruang kepada istri untuk memberikan masukan kepada suami, sekalipun keputusan akhir tetap berada ditangan suami . Dalam konteks ini istri ibarat partner bagi suami kehidupan persahabatan ini jelas tergambar sebagaimana kehidupan rumah tangga rasulullah SAW

3. Kewajiban memberi nafkah yang layak kepada istri dan anaknya
Sebagaimana firman Allah “ kewajiban ayah memberikan makanan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf QS Al-Baqarah 223”. Suami yang baik dalam perspektif Islam adalah seorang suami yang bersungguh sungguh dalam bekerja demi memenuhi kebutuhan nafkah keluarga .

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW pernah menyalami tangan Sa’ad bin Muadz ra , kala itu kedua telapak tangan Saad tampak kasar . Nabi SAW bertanya kepada beliau mengenai hal tersebut , Sa’ad menjawab “ saya selalu mengayunkan kampak untuk mencari nafkah keluargaku ” kemudian Rasulullah SAW menciumi tangan Saad seraya berkata “ inilah telapak tangan yang disukai oleh Allah SWT ” ( Hadist ini disebutkan oleh As Sarkhasi dalam al Mabsuth). Dalam keluarga yang berpegang teguh pada syariat islam tidak akan ada suami yang bermalas malasan dan abai terhadap nasib anak dan istrinya. Kewajiban para suami yang Allah amanahkan kepada setiap ayah tidak akan dianggap sebagai beban tetapi akan dijadikan sebagai peluang untuk meraih pahala disisi Allah SWT .

Kewajiban istri
1. Mentaati suami
Dan ini adalah karakter dari seorang istri yang shaliha Allah SWT berfirman “ Maka perempuan perempuan yang shaliha itu adalah mereka yang taat dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada ” ( QS An Nisaa : 34.
2. Menjadi ibu dan mengatur rumah tangga (ummu warabbatul bait ).
Allah SWT berfirman dan Allah menjadikan istri istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagi kamu dari istri istrimu itu anak anak dan cucu cucu (QS An Nahl : 72).

Ayat ini menjelaskan tentang peran seorang istri , yang pertama menjadi seorang ibu . terkait peran ini seorang perempuan bukan hanya bertugas melahirkan dan membesarkan anak tetapi mereka juga wajib menjadi pendidik bagi putera puterinya , mengantarkan mereka menjadi generasi yang sholih sholiha dan ini adalah suatu peran yang sangat urgent sehingga dibutuhkan kerjasama yang baik antar suami dan istri serta dibutuhkan komunikasi dan perhatian yang khusus .

Karena merekalah anak anak kita yang akan melanjutkan kehidupan islam serta melanjutkan perjuangan islam melanjutkan generasi islam menjadi generasi yang berkah . Maka peran suami dan istri ialah mepersiapkan benih benih hebat generasi cemerlang , pendidikan ibu dan ayah merupakan benteng yang akan melindungi anak dari berbagai kerusakan .
3. Istri adalah pengatur rumah tangga
Ia bertanggung jawab dalam sesmua urusan rumahnya sesuai dengan kemampuan nya sebagiaman ditetapkan Rasulullah SAW untuk putrinya Fatimah mengerjakan pekerjaan rumah .Rumahku adalah surgaku rumah yang selalu dirindukan ketika penghuni sedang berada diluar rumah yang didalamnya terdapat ketenangan dan kedamaian .

Ketika suami dan anak yang banyak beraktifitas diluar rumah , lalu mereka senantiasa merindukan suasana rumah maka hal tersebut adalah tanda bahwa seorang ibu telah berhasil menciptakan suasana rumah yang memberikan kenyamanan dan ketentraman maka disinilah peran penting seorang perempuan menjadi pengatur rumah tangga .

Kewajiban bersama antara suami dan istri
Wahai orang orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS Atahrim : 6). Rasulullah SAW senantiasa memberika teladan yang indah dalam membimbing anak anak , beliau senantiasa berlaku lemah lembut dan tidak pernah mencela anak anak .
Rasulullah juga menemani anak anak makan, apabila mereka melakukan kesalahan Rasulullah langsung meluruskannya dengan baik dan mengesankan. Umar bin Salamah anak tiri beliau menceritakan “ ketika masih anak anak aku pernah dipangku oleh Rasulullah SAW , tanganku melayang kearah nampan yang berisi makanan Rasulullah berkata kepadaku “ nak bacalah basmallah , lalu makanlah dengan tangan kanan dan ambilah makanan yang terdekat dengan mu , maka seperti itulah cara makanku seterusnya (HR Bukhari dan Muslim ).

Anak yang salih bukanlah seorang anka yang lahir begitu saja melainkan seorang anak yang dididik dan dibina dengan baik secara berkelanjutan , disinilah diperlukan peran dari istri dan suami baik dalam mendidik secara langsung maupun memfasilitasi agar anak mendapatkan pendidikan yang tepat . anak yang dididik dengan ajaran islam akan tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang memiliki keimanan yang kokoh lagi tinggi serta taarkepada sang penciptanya berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya . itulah sosok Qurrata A’yun yang senantiasa dimohonkan oleh setiap orang tua (QS Alfurqan : 74 ).

Kesejahteraan keluarga
Keluarga sejahtera adalah keluarga yang mampu memenuhi semua kebutuhan hidupnya , baik kebutuhan dasar maupun kebutuhan pelengkap. Para ahli fiqih mengatakan “ orang yang berkecukupan adalah orang yang mampu mengusahakan makanan pokok untuk dirinya berikut keluarganya , serta mampu mengusahakan pakaian dan tempat tinggal mereka, termasuk kendaraan dan perhiasan yang layak .
Pada praktiknya , kesejahteraan ini tidak bisa diraih hanya lewat peran individu atau keluarga saja, di dalam nya ada peran negara yang harus dilaksanakan .

Individu atau suami berkewajiban untuk mencukupi kebutuhan dirinya juga keluarga. Dalam pandangan islam yang bertanggung jawab memenuhi nafkah adalah suami atau ayah , sebagaimana firman Allah SWT “kewajiaban ayah memberikan makanan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf…..dan atas ahli waris yang semisal” (QS Al Baqarah 233).

Menyamakan kewajiban nafkah antara ayah dengan ahli waris .
Mekanisme berikutnya adalah peran dari negara, negara sebagai penanggung
jawab urusan umat wajim memenuhi kebutuhan warganya, tapi faktanya keluarga muslim saat ini sangat jauh dari gambaran keluarga yang sejahtera dan bahagia dikarenakan berapa banyak para lelaki lupa diri akan keluarga yang telah dimilikinya dan begitupun wanita yang senantiasa kebanyakan dari mereka terlalu sibuk mengurusi karirnya sehingga wanita kehilangan peran sebagai seorang istri sekaligus ibu gambaran keluarga muslim bahagia namun hal ini cukup sulit untuk kita dapati pada zaman era kapitalis karena semua diukur berdasarkan materi yang dimiliki serta menumbuh kembangkan rasa individualis pada manusianya bahkan dalam keluarga sekalipun, diamana para istri lebih banyak yang memilih karirnya daripada mengurusi rumah tangga , mengenyampingkan peran dari madrasah utama anak digantiakan oeh peran ibu asuh maupun baby sitter hal ini terbukti dari begitu menjamurnya lembaga jasa penitipan anak usia dini (PAUD) atau disebut juga “day care”sehingga dalam rentang waktu yang berkepanjangan akan menjadi penyebab retaknya hubungan keluarga muslim.

Tidak sedikit kita menjadi saksi betapa maraknya kasus perceraian ditengah ummat, ketidakharmonisan suami dan istri, keluargapun menjadi rapuh, dan kerapuhan keluarga ini berimbas pada nasib anak anak . mulai dari MBA (Maried Because Accident), aborsi , narkoba ,dan tidak sedikit tindakan kriminal yang terjadi di negeri ini . Kekerasan rumah tangga hingga kesempitan hidup akibat ekonomi membuat orang mudah kalap dan bertindak anarkis, demikian juga pergaulan suami dan istri tidak didasarkan pada pemahaman islam.

Yang terjadi diatas hanya sebagian kisah yang menimpa negeri ini yang bermuara dari tidak jadikan nya hukum hukum islam sebagai pedoman dalam kehidupan keluarga muslim . Nilai nilai keluarga dalam agama islam sedikit demi sedikt luntur seiring berkembangnya arus dan budaya barat serta kehidupan yang hedonisme. Disadari atau tidak kehidupan umat islam semakin jauh dari aturan islam semakin menjauhkan agama dalam peran kehidupan . Kemiskinan di zaman sekarang adalah momok yang paling menakutkan sehingga mampu menipu sebagian kalangan yang ingin melakukan perubahan bagi masyarakat mereka berasumsi bahwa persoalan akan selesai tatkala kemiskinan berhasil dituntaskan .

Ada asumsi yang sangat keliru dimana teori ekonomi kapitalisme adalah bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas sementara sarana pemuas kebutuhan manusia barang dan jasa terbatas. Banyak kepemilikan umum seharusnya berpindah tangan menjadi kepemilikan pribadi perusahaan tertentu . Ternyata kemiskinan bukan satu satu nya perkara krusial, persaingan antara individu masyarakat untuk meraih penghidupan yang layak dalam sitem ini telah mendorong setiap indivudu untuk mencurahkan segenap tenaga tampa mempertimbangkan halal dan haram dalam aturan Syariah Islam, mereka mengabaikan aspek ukhrawi dalam kebutuhan duniawi .

Keluarga pun terkena imbasnya berganti peran dalam ruamah tangga pun sudah menjadi hal yang biasa dimana ibu berperan sebagai pencari nafkah sedangkansuami berdiam diri dirumah guna menjaga anak anak serta mengerjakan pekerjaan rumah tangga .

Anak anak yang seharusnya dilindungi dan mendapatkan pendidikan malah dengan terpaksa mereka harus ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sehingga banyak para ibu yang aktif diluar rumah mencari nafkah sehingga kewajiaban yang sesungguhnya menjadi terbengkalai kemudian lahirlah generasi yang kurang perhatian dan pendidikan yang menurun dan inilah faktur yang membuat generasi saat ini memiliki kualitas yang rendah. Semakin semrut dan beralihnya peran tidak sesuai dengan fitrah manusia dan meninggalkan aturan Allah yang sudah sedemikian rupa mengatur kehidupan muslim secara sempurna .

Maka apa yang seharunya dilakukan guna menyelamatkam keluarga kita adalah dengan mengembalikan fungsi Islam memberlakukan aturan aturan Islam baik dalam mengurus rumah tangga hingga bernegara guna menyelamatkan keluarga dari buasnya sistem kehidupan saat ini ada proses perubahan yang semetinya dilakukan

1. Menentukan visi misi keluarga .
Menentukan visi misi keluarga guna mewujudkan keluarga pejuang peradaban Islam dimana anggotanya menjadi pelaku perubahan menuju peradaban islam
2. Menjadikan taqwa sebagai landasan berkeluarga, guna mewujudkan visi misi tersebut dengan ketakwaan kepada Allah SWT akan berdiri kokoh sekalipun gangguan menghadang. Semua tawaran solusi yang bertentangan dengan Islam pasti akan dilawan dan ditinggalkan.
“ Barang siapa bertaqwa kepada Allah SWT niscaya dipermudahkan segala urusan nya ” (QS At Thalaq : 4).
3. Menjadikan seluruh anggota keluarga terikat dengan huku syara yang menjadikan halal dan haram sebagai landasan atau standar dalam berbuat dan menilai sesuatu karena disanalah letak keridhaan Allah SWT.
4. Menjaga hak dan kewajiban seluruh anggota keluarga muslim haruslah memahami fungsi dan kedudukan masing masing dalam berkeluarga sesuai dengan ketentuan Allah SWT dan rasulnya kemudian berupaya semaksimak mungkin untuk untuk menjalankanya.

“ Dan tidaklah pantas bagi laki laki mukmin apabila Allah dan rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada pilihan yang lain bagi mereka dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguh dia tersesat dengan kesesatan yang nyata” (QS Al Ahzab : 36).
5. Mebina keluarga dengan keperibadian Islam
6. Menjadikan dakwah sebagian penting dari kehidupan berkeluarga juga mengkondisikan agar semua anggota senantiasa terikat dengan aturan Islam .
Maka kehidupan yang sejahtera dan kedamaian akan terjadi ketika semua berjalan sesuai dengan apa yang telah Allah turunkan oleh Allah yaitu dengan Al Qur’an dan Assunah . dengan terikatnya semua urusan kehidupan kepada aturan islam termasuk dalam berkeluarga, bermasyarakat hingga bernegara.

Terimakasih bagi yang sudah membaca semoga bermanfaat bagi kita semua.

Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*