[Artikel] Kohesi dalam Discourse Analysis

Oleh:

Agusmawati

(Mahasiswi Semester VI Program Studi Tadris Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri Takengon)

Dalam artikel kali ini penulis akan membahas “Kohesi Dalam Discourse Analysis” pertama kali yang harus kita ketahui apa itu discourse analysis.

Dilansir dari Wikipedia Dicourse Analysis (Analis Wacana) Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan terhadap para pengguna sebagai suatu elemen masyarakat. Kajian terhadap suatu wacana dapat dilakukan secara struktural dengan menghubungkan antara teks dan konteks, serta melihat suatu wacana secara fungsional dengan menganalisis tindakan yang dilakukan seseorang untuk tujuan tertentu guna memberikan makna kepada partisipan yang terlibat. Data yang digunakan dalam analisis wacana adalah dengan cara berfokus pada pengontruksian secara kewacanaan yang meliputi teks tulis yang berupa ragam tulisan dan teks lisan yang berupa ragam tuturan.

Pengertian wacana menurut para ahli, James Deese dalam karyanya Thought into Speech: the Psychology of a Language (1984:72, sebagaimana dikutip ulang oleh Sumarlam (2009:6) menyatakan bahwa wacana adalah seperangkat proposisi yang saling berhubungan untuk menghasilkan suatu rasa kepaduan atau rasa kohesi bagi penyimak atau pembaca. Kohesi atau kepaduan itu sendiri harus muncul dari isi wacana, tetapi banyak sekali rasa kepaduan yang dirasakan oleh penyimak atau pembaca harus muncul dari cara pengutaraan, yaitu pengutaraan wacana itu.

Selanjutnya, penulis akan membahas mengenai Kohesi, apa itu kohesi? Berikut ini beberapa pendapat para ahli tentang kohesi. Menurut Haliday dan Hasan (1976), Kohesi merupakan organisasi sintaktik, wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Kohesi adalah hubungan antar kalimat di dalam wacana baik dalam strata gramatikal maupun dalam tataran leksikal (Haliday, 1994: 308).

Gutwinsky (dalam Sudaryat, 2008:151) berasumsibahwa kohesi mengacu pada hubungan antarkalimat dalam wacana, baik dalam tataran gramatikal maupun dalam tataran leksikal. Kohesi adalah hubungan antarproposisi yang dinyatakan secara eksplisit oleh unsur-unsur gramatikal dan semantik dalam kalimatkalimat yang membentuk wacana (Alwi, dkk., 2003:427)

Jenis-jenis Kohesi
Menurut Halliday dan Hassan (1976), unsur kohesi meliputi aspek-aspek gramatikal dan leksikal. Kohesi gramatikal artinya kepaduan bentuk sesuai dengan tata bahasa. Kohesi leksikal artinya kepaduan bentuk sesuai dengan kata.
a. Kohesi Gramatikal
Kohesi gramatikal adalah kepaduan bentuk bagian-bagian wacana yang diwujudkan ke dalam sistem gramatikal. Secara lebih rinci, aspek gramatikal wacana meliputi:
Referensi (Reference,) referensi atau pengacuan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal dari satuan bahasa tertentu yang mengacu pada satuan bahasa lain yang mengikutinya. Bila berdasarkan tempatnya, apakah acuan itu berada di dalam teks atau di luar teks, maka pengacuan dibedakan menjadi dua jenis yaitu pengacuan endofora (terdapat di dalam teks) dan pengacuan eksofora (terdapat di luar teks).

Subtitusi, subtitusi adalah sesuatu yang digantikan atau penggantian unsur bahasa oleh unsur bahsa lainnya dalam satuan yang lebih besar atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu. Subtitusi merupakan hubungan gramatikal yang lebih mengarah pada hubungan kata dan makna. Subtitusi dapat bersifat nominal, verbal, dan klausal.

Elipsis, elipsis adalah penghapusan, penghilangan atau peniaadaan kata atau satuan lain yang bentuk awalnya dapat diprediksi dari konteks bahasa atau luar bahasa. Ellipsis dapat pula dikatakan penggantian nol ; sesuatu yang ada tetapi tidak diucapakan atau tidak dituliskan (disembunyikan).

Konjungsi, konjungsi adalah penghubung yang dipergunakan untuk menggabungkan atau menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, kalusa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, atau peragraf dengan paragraph lainnya.
b. Kohesi Leksikal
Kohesi leksikal adalah hubungan antar beberapa unsur kata dalam wacana. Hubungan kohesif yang ada berdasarkan aspek leksikal, dengan pilihan kata yang serasi, menyatakan hubungan makna antara unit bahasa yang satu dengan unit bahasa yang lain dalam wacana. Ada enam aspek leksikal dalam wacana yakni :
Repetisi (Pengulangan), repetisi adalah pengulangan satuan bahasa yang dijadikan sebagai bagian yang penting untuk memberi tekanan atau penguatan dalam sebuah konteks yang sesuai.
Sinomini (Persamaan), sinomini dapat diartikan sebagai persamaan kata atau nama lain untuk benda atau hal yang sama atau ungkapan yang makna nya kurang lebih sama dengan ungkapan lain. Sinomini merupakan salah satu aspek leksikal sebagai pendukung dalam kepaduan wacana.

Antonimi (lawan kata), antonimi dapat diartikan sebagai lawan kata atau nama lain untuk benda atau hal yang lain, satuan bahasa yang maknanya berlawan/berposisi dengan satuan bahasa yang lain.

Kolokasi (sanding kata), kolokasi atau padanan atau sanding kata adalah asosiasi dalam menggunakan pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan.

Hiponimi (pengklompokan/penkelasan), hiponimi dapat diartikan sebagai pengklompokan atau pengkelasan satuan bahasa yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain.

Ekuivalen ( kesepadanan/kesejajaran), ekuivalen adalah hubungan kesepadanan atau kesejajaran antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lain dalam sebuah teks. Dalam hal ini, sejumlah kata hasil proses afisasi dari morfem asal yang sama menunjuk adanya hubungan kesepadanan atau kesejajaran.

Fungsi kohesi yakni sebagai penanda untuk memadukan kalimat dan pargraf. Menurut Scrifin (1987) penanda tersebut antara lain yaitu: sebagai penanda dalam memadukan kaimat dan paragraf, penanda penunjukan, kata frasa yang menunjuk kata lain, penanda hubungan pengganti, kata pengganti, dan konjungsi, elipsis atau elipsis, penghilangan tapi masih mengetahui, Penanda perangkaian dalam satu kaliimat, sebaliknya, selanjutnya, dan penanda hubungan leksikal, repetisi, homonim sinonim.

Berikut contoh kalimat yang mengandung kohesi:
• Pak guru menagajar matematika dan bahasa inggris. Pelajaran itu dikuasainya dengan baik.( dalam kalimat kedua, kata “matematika dan bahasa inggris” di kalimat pertama digantikan oleh kata “pelajaran itu” dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kedua kalimat itu memiliki kohesi.)
• Bapak dan ibu sudah berangkat. Mereka naik mobil listrik buatan Indonesia. (dalam kalimat kedua, kata “mereka” merujuk pada kata “Bapak dan ibu” yang terdapat dalam kalimat pertama dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kedua kalimat itu memiliki hubungan kohesi.)

Kohesi tidak menelurkan koherensi. Kohesi ditentukan oleh hubungan intersenensial leksikal dan gramatikal, sedangkan koherensi didasarkan pada hubungan semantik.jadi sederhananya Kohesi adalah “perekat yang menempelkan kalimat ke kalimat lain dalam paragraf atau paragraf ke paragraf lain dalam sebuah teks.”

Sumber;

https://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_wacana
http://jurnal.unsyiah.ac.id/JLB/article/download/12165/9449
http://ejournal.iqrometro.co.id/index.php/pendidikan/article/download/99/81/
https://www.inirumahpintar.com/2016/08/perbedaan-contoh-kohesi-dan-koherensi.html

Terimakasih bagi yang sudah membaca semoga bermanfaat bagi kita semua.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*