[Artikel] Implementasi Budaya Sumang Pada Masyarakat Gayo

Oleh:

Win Temas Miko

(Mahasiswa Semester IV Program Studi Tadris Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri Takengon, Aceh Tengah.Aceh)

Sistem budaya sumang Gayo ini bermuatan pengetahuan, keyakinan, nilai, aturan, dan hukum yang menjadi acuan bagi tingkah laku dalam kehidupan masyarakat Gayo.

Implementasi budaya sumang terhadap restorasi karakter masyarakat Gayo sangat relevan, karena bernilai spiritual dan ber- orientasi kepada akhlâq al-karîmah, menjaga harga diri, harkat, martabat keluarga dan masyarakat.

Harga diri disebut mukemel artinya punya rasa malu. Kalau masyarakat Gayo tidak berkarakter berarti tidak punya rasa malu (gere mukemel). Penulis menyim- pulkan bahwa budaya sumang berperan penting dalam merestorasi kultur masyarakat menjadi lebih berkarakter mulia ketika diterapkan secara utuh dalam kehidupan masyarakat.

Di antara budayanya adalahsumangyang merupakan sistem budaya yang telah berakar dalam masyarakat Gayo sebagai pola dasar dan landasan hidup, baik dalam pergaulan, kekerabatan, sosial kemasyarakatan, maupun pengetahuan, keyakinan, nilai, dan aturan yang menjadi acuan tingkah laku dalam kehidupan masyarakat.

1 Budaya sumang dapat menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan untuk ditentukan baik buruknya dan meng- hendaki terciptanya masyarakat berakhlak.

2. berkarakter, beretika, aman, damai dan sejahtera lahiriah dan batiniah. Budaya sumang menjadi ukuran nilai apakah seseorang berperilaku tertib atau tidak dalam kehidupan sosial masyarakat Gayo di Aceh.

Budaya sumang bernilai baik dan buruk, benar dan salah, amar makruf nahi mungkar. Karena itu, budaya sumang merupakan suatu sistem budaya Gayo yang bernilai spiritual dan berorientasi kepada akhlak mulia, membentuk pergaulan hidup bersama yang berlandaskan ajaran Islam dan adat-istiadat.3 Jadi, budaya sumang menjadi suatu tradisi masyarakat Gayo secara turun temurun dari generasi kepada generasi selanjutnya.

Budaya sumang itu dipergunakan sudah terlalu jauh menyimpang dari aturan-aturan yang sebenarnya, sehingga warnanya sudah tidak orisinal lagi, dan perkembangannya memudar terus, seakan-akan adat itu tidak mempunyai roh lagi.

Budaya sumang dalam masyarakat Gayo di Aceh terdiri atas dua kata yaitu budaya dan sumang. Budaya atau culture adalah segala usaha dan aktivitas manusia dalam mengelola I M P L E M E N T A S I BUDAYA SUMANG Restorasi Karakter Masyarakat Gayo M U L I A Penengonen ,Pelangkahen , Penengenen, Kenunulen , Perupuhen , Penosahen , Perceraken , Pergaulen , Perbueten .

Budaya sering juga disebut dengan tradisi. Tradisi diartikan sebagai ide umum, sikap dan kebiasaan dari masyarakat yang tampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dan mengubah alam.

Sedangkan budaya Gayo adalah setiap atau segala usaha dan tradisi masyarakat Gayo yang tampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat Gayo yang bermuatan pengetahuan, keyakinan (beliefs), nilai (values), norma-norma
Sedangkan makna sumang adalah istilah yang berasal dari bahasa asli daerah Tanah Gayo. Kata sumang mengandung arti perbuatan amoral yang dilakukan oleh seorang lakilaki dan perempuan yang telah dewasa yang amat dilarang menurut adat. Sumang mengandung arti, sumbang yaitu hal-hal yang amat dilarang atau tidak sopan.

Budaya sumang adalah suatu model budaya yang integral antara akal pikiran, hati, rohani dan jasmaninya, akhlak, sikap, tabiat, dan keterampilan serta keahliannya, menyiapkan masyarakat untuk hidup dalam keadaan aman, damai, bahagia, sejahtera dunia dan akhirat.

Munculnya budaya sumang bertitik awal dari sikap mendidik dan membina manusianya menjadi manusia yang paripurna (insan kamil), yaitu terkumpulnya seluruh potensi intelektual, rohani, dan fisik yang ada pada diri manusia. Secara kronologis, ada empatsumang dalam adat Gayo yang disebutsumang opat. Penjabaran dari empatsumang ini melahirkan sumang-sumang yang lain:

Sumang Penengonen (Sumbang Penglihatan)
Sumang Penengonen (sumbang penglihatan) disebut juga dengan Sumang Penerahen yaitu memandang wanita dengan iktikad yang tidak baik. Artinya sangat merasa malu kalau seorang pria melihat seorang wanita dengan pandangan hawa nafsu. Sebaliknya malu apabila seorang wanita memandang laki-laki yang bukan mahramnya dengan pandangan tajam menimbulkan birahinya. Jadi, Sumang Penengonen mengontrol mata dan hati dari pandangan yang tercela, karena hal itu tabu atau pantang dilakukan. Untuk menahan diri dari pandangan yang menjurus kepada nafsu seksual perlu ditanamkan tauhid

Sumang Pelangkahen (Sumbang Perjalanan)
Sumang Pelangkahen adalah apabila pria dan wanita pergi berjalan-jalan tanpa mahram. Bahkan apabila ada pria memisahkan diri dari orang seperjalanan atau berjalan sendiri secara tersembunyi-sembunyi dan menuju ke suatu tempat yang sepi dengan niat dan maksud berhubungan dengan wanita yang bukan mahramnya, juga dipandang sebagai Sumang Pelangkahen.Apabila kakak perempuan dan adik laki-lakinya berjalan berdua-duaan di tengah jalan, atau abang dan adik wanitanya bergandengan tangan di jalanan adalah Sumang Pelangkahen, sebab dugaan orang lain, bahwa kakak dan adik laki-lakinya adalah suami dan istri, padahal mereka saudara kandung, karena itu dilarang menurut adat Gayo.

Sumang Penengenen (Sumbang Pendengaran)
Sumang Penengenen berarti tabu atau pantang mendengar pembicaraan orang lain. Seorang laki-laki dan wanita sedang berbisik-bisik di tempat sepi tergolongSumang Penengenen yang sangat dilarang. Sumang Penengenen ini bukan hanya ditujukan kepada orang yang sedang berbisik-bisik, tetapi juga ditujukan kepada orang-orang yang mendengar pembicaraan orang yang sedang berbisik-bisik tersebut. Apalagi orang laki-laki dan perempuan itu berbisikbisik kotor dan menjurus kepada yang tidak patut dan tidak pantas untuk dibicarakan, seperti orang tua tidak pantas bicara tentang hubungan suami dan istri di depan anak-anaknya, hal ini juga dianggap sebagai Sumang Penengenen.

Sumang Kenunulen (Sumbang Kedudukan)
Sumang Kenunulen (kedudukan) yaitu duduk di satu tempat yang dapat diduga tidak baik dan menimbulkan kecurigaan. Menurut Mahmud Ibrahim, bahwa Sumang Kenunulen adalah menggunakan tempat tidak pada fungsinya dan tidak menghormati orang lain yang sedang duduk di tempat itu dapat dipandang sebagai Sumang Kenunulen. Sedangkan A.R. Hakim Aman Pinan mengatakan bahwa “dianggap sumbang cara duduk (Sumang Kenunulen) bila umpamanya dalam satu ruangan, antara ayah atau mertua dan anak atau menantu duduk saling bertemu lutut, hingga tanpa ada rasa sungkan lagi terhadap orang tua. Dalam tradisi Gayo ini dianggap sebagai

Sumang Kenunulen.
Sumang Perupuhen (Sumbang Berpakaian)
Sumang Perupuhen mengandung pengertian bahwa apabila seseorang yang memakai busana secara ketat, sempit, tipis, dan you can see (kamu dapat dilihat), sehingga dipandang tidak sopan dan kurang pantas dilihat dan orang yang melihatnya menimbulkan risih dan hawa nafsu, atau wanita yang berpakaian, tetapi pada hakikatnya adalah telanjang, lenggak lenggok dan transparan. Inilah yang disebut Sumang Perupuhen. Menurut Bapak Julia bahwa apabila pria dan wanita berpakaian tidak sopan, tipis, ketat, dan transparan sangat dilarang. Karena hal itu dianggap sebagai Sumang Perupuhen yaitu berpakaian sembarangan, dalam bahasa Gayonya disebut berupuh kune kenak perlu ditinggalkan

Sumang Penosahen (Sumbang Pemberian)
Sumang Penosehen adalah seorang laki-laki memberikan sesuatu pada wanita yang bukan mahramnya untuk maksud dan tujuan tertentu tanpa ada perhitungan, sedangkan kepada orang lain ia bersikap kikir. Dalam istilah Gayo disebut Kujema dele tikik, ku sara jeme dele. Artinya pemberian kepada orang banyak sedikit, sedangkan kepada satu orang banyak. Kepada satu orang dimaksudkan adalah ada hubungan spesial si pemberi dan si penerima dengan maksud tertentu, atau ada seorang pria memberikan sesuatu pada wanita dengan niat berbuat seksual, maka pemberian dengan maksud seperti itu, dipandang sebagai Sumang Penosahen. Tetapi jika pemberian itu tanpa niat jahat, melainkan dengan keikhlasan, hal itu bukan Sumang Penosahen, melainkan sedekah jariyah, yaitu pemberian dengan ikhlas sebagai bentuk amal ibadah untuk memperoleh rida dari Allah SWT.

Sumang Perceraken (Sumbang Perkataan)
Sumang Perceraken adalah perkataan yang diungkapkan oleh seseorang kepada orang lain tidak sesuai dengan ajaran Islam dan adat sopan santun. Perkataan seperti itu disebut cerak enta sesanah (Perkataan yang bukan-bukan). Dalam istilah ajaran Islam disebut qaul al-zur (perkataan keji).32 Sumang Perceraken merupakan pembicaraan antara pria dan wanita mengenai hal-hal yang tidak pantas dan tidak wajar dibicarakan. Sumang Perceraken ini bukan hanya ditilik dari segi kata-kata, tetapi juga dari segi penyesuaian waktu, tempat, keadaan, dan cara mengungkapkan perkataan tersebut. Mungkin isi atau substansi, tujuan, dan maksud kata-kata yang diungkapkan itu baik, namun karena waktu dan tempat serta keadaan mengungkapkan tidak tepat, maka ucapan seperti itu dipandang sebagai Sumang Perceraken.

Sumang Pergaulen (Sumbang Pergaulan)
Sumang Pergaulen adalah larangan bergaul, hidup berteman, atau hidup bersahabat dengan bebas. Jadi, Sumang Pergauelen merupakan tabu, pantang, atau larangan bergaul secara bebas antara pria dan wanita yang bukan mahramnya. Dari segi bahasa pergaulan artinya proses bergaul, sedangkan bebas artinya terlepas dari ikatan. Karena itu, pergaulan bebas dianggap sebagai Sumang Pergaulen

Sumang Perbueten (Sumbang Perbuatan)
Sumang Perbueten adalah apabila ada seseorang melakukan perbuatan, seperti menyentuh, apalagi memegang wanita yang bukan mahramnya dengan sengaja. Seseorang baru dapat dianggap telah melakukan Sumang Perbueten apabila terdapat beberapa syarat pembuktian adalah sebagai berikut. Pertama, syarat Jirim-jisim yaitu jelas pelakunya, bukan dugaan. Kedua, syarat jirim johar yaitu perbuatan sumang diketahui oleh orang lain. Ketiga,syarat jirim salah satu pelaku perbuatan sumang memisahkan diri secara diam-diam dari pergaulan yang biasa.

Implementasi Budaya Sumang Gayo
Implementasi budaya sumang terhadap restorasi karakter masyarakat Gayo di Aceh diselenggarakan sebagai usaha sadar dan terencana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sehingga dapat menjangkau ranah-ranah hasil pembelajaran, baik peningkatan dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dalam bentuk perubahan sikap, perilaku, karakter dan memajukan budi pekerti serta pikiran.

Budaya sumang di samping sebagai tradisi juga merupakan suatu sistem, bentuk, dan model pendidikan tertua di negeri antara Tanah Gayo, meskipun pada awalnya model pendidikan SumangGayo ini tidak tertulis dan tidak diajarkan secara formal di lembaga pendidikan serta tidak memiliki kurikulum resmi, namun pendidikan Sumang ini tetap berlaku untuk mendidik dan membina remaja, pemuda, dan masyarakat dari perbuatan amoral dan tingkah laku tercela.

Terimakasih bagi yang sudah membaca semoga bermanfaat bagi kita semua.

Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*